Senin, 21 Mei 2012
new inspiration
pernikahan bukanlah tempat dimana idealisme terkubur tanpa peti dan cita-cita tinggi kehabisan anak tangga...
Senin, 14 Mei 2012
pajokka crew
Tak
terasa waktu merayap. Memanjang dalam desah dan leguh. Hari-hari berputar,
menciptakan guguran waktu. Sehingga dedaunan waktu bertumpuk menjadi tanggal
yang jatuh tumpah tindih. Bertahun telah berlalu, kala
keakraban,kebersamaan,canda tawa tergantikan duka.
Suasana
kebersamaan belum pupus dari hati, walaupun aromanya telah menguap ke udara.
Gelak tawa dan celaan-celaan lucu masih menggema. Suasana seperti itu seperti
tak mau hilang, selalu mengusik. Itu membuat mila tak bisa memejamkan mata. Ia
masih ingat apa yang dikatakan ucha, beberapa hari sebelum kemarau kebersamaan
terjadi.
‘’ mil,
kejujuran adalah hal terpenting dalam persahabatan...’’
Mendengar
itu, mila hanya terdiam. Bagaikan luka ditaburi garam. Tak sepatah katapun
keluar dari mulutnya kecuali mengalihkan pembicaraan.
Namun
nasi telah menjadi bubur, bukannya mendengar kata-kata itu. Ia malah lari dari
kenyataan. Membiarkan dirinya terpojok, menjalani hari-hari yang begitu sinis
menyapanya. Masih terngiang dalam memorinya.
‘’tak
baik begitu. Bukannya kami mendendam, tetapi kami hanya ingin kamu menyadari
setiap kekhilafanmu. Dan kembali menjadi mila yang kami kenal.
Mila merenungi
kekhilafannya. Masih terbayang di matanya suasana penuh canda, berkeliling kota
menghabiskan malam menghilangkan penat dan beban,menatap layung dan matahari
yang memancar dari langit. Burung-burung, bunga pepohonan hutan bermekaran,
seperti di taman firdaus. Saat ketika kami dengan polosnya, berkeliling mencari
dukun. Hanya untuk barang yang telah hilang, dengan harapan akan kembali.
Sungguh suasana yang sangat berkesan. Ya, pajokka crew memang group yang seru,
gokil, serta penuh rasa persaudaraan. Kawan-kawan yang telah menjadi kanvas
dalam hidup mila. Tetapi, ia hanya manusia biasa. Tak ada sedikitpun niat dalam
hatinya mengundang dunia persilatan. Hanya saja, ia terlalu takut jujur.
‘’pantaskah
aku mendapatkan maaf mereka...?’’ Ujar mila dalam hatinya.
Mila
sadar akan kedudukan dirinya, namun itu tak mencegah untuk tetap meminta maaf
pada mereka. Ia tak menafikkan,
kehadiran mereka memberi kesegaran dalam hidupnya. Terasa hidupnya lebih
berarti dan lebih semarak. Lebih bersemangat.
Sejak
itu, ia menjalani hidupnya seperti sediakala. Meski tak sekalipun ia punya
kesempatan lagi menatap ukiran kebersamaan seperti dulu.
Selaksa
kisah mila, seandainya saat itu ia menjadi orang-orang yang bercahaya. Mungkin
ia lupa rasa syukur. membawa kedamaian pada setiap yang merasakan.
‘’Semangat,
semangat, semangat...’’
Serasa
ada cahaya yang datang dari langit. Serasa ada bunyi-bunyian manis menyentuh
gendang telinga. Langit seperti menaburkan bunga-bunga.
Pajokka
crew...for all, forgive me.
Selasa, 13 Maret 2012
luapan hati
Kau selalu saja mengatakan hal yang tidak ingin ku dengar
Aku terlalu mengerti maksudmu, karena itulah aku tak ingin dengar,
Aku berpura-pura tidak tahu menahu, tapi kau semakin memojokkanku
Kemudian dengan sombongnya kau berkata, kata-kata yang menyakitkan itu
Kau selalu saja mengatakan hal yang ingin aku lupakan
Aku terlalu paham tentang pembicaraanmu, karena itulah aku tak ingin ingat
Aku berpura-pura telah melupakannya, tapi kau terus menyudutkanku
Kemudian dengan lembutnya kau berkata, kenangan yang menyebalkan itu
Jika kau tak suka aku
Maka katakan dan menjauhlah dariku
Jangan membunuhku perlahan dengan kata-katamu yang tajam
Kata-kata itu menusukku lebih tajam dari pisau
Tak terlihat dan lukanya takkan bisa hilang
Jika kau tak suka aku
Maka jangan hanya memojokkanku
Kau hanya bisa menyerangku dengan semua kelemahan dan kekuranganku
Kau membunuhku perlahan-lahan, membunuh kesabaranku
Aku ingin menutup mulutmu dan mengembalikan kata-katamu
Kau terkadang membicarakan hal-hal yang tak bisa kumengerti
Kau tak peduli aku mengerti atau tidak, yang penting kau bicara
Kau tak pernah mau mendengarkan kata-kataku
Kau merasa kata-katamulah yang benar dan takkan salah
Aku akan jujur
Aku tak suka padamu
Aku tidak gampang membenci seseorang
Tapi aku gampang menyembunyikan kebencianku
Aku masih bisa memperlihatkan senyum dan kebaikanku
Meskipun aku sangat membencimu
Walaupun aku harus berdusta, aku akan berpura-pura
“Aku tidak ada dendam padamu”
Aku tidak ingin dibenci, karena itu aku tidak mau membenci
Tapi terkadang kau bertindak diluar batas kemampuanku menerima
Aku bisa menerima semua cemoohanmu, caci makimu, emosimu
Dan semua hal negative untukku dengan lapang dada
Yeah…tapi jika aku sudah mengambil sikap DIAM
Itu artinya, aku sudah berada dititik puncak
Titik puncak emosiku
Terkadang, aku berfikir
Lebih baik diam, karena diam menyisakan berjuta misteri
Kau membencinya kan??
Kau boleh tetap melanjutkan ocehanmu yang tak penting itu
Aku hanya akan diam dan mendengarkan semuanya dengan sabar
Aku tak akan kabur dari siapapun yang ingin menjatuhkanku
Karena aku akan menabung kritikanmu untuk kesuksesanku
Kau boleh tetap melanjutkan tawamu yang tak bisa di rem
Aku, sesekali akan ikut tertawa agar aktingku sempurna
Aku berpura-pura menjadi orang yang bodoh didepanmu
Tak apa, asal aku bisa mentertawakan diriku sendiri
Lebih baik begitu, daripada aku terus mentertawakan orang lain….
Aku memang pantas untuk ditertawakan
Berbuatlah sesuka hatimu, dan aku akan berbuat sebaliknya
Aku memang bodoh, saking bodohnya
Aku selalu saja berhasil membuatmu tertawa dan menjatuhkanku
Tertawalah…dan aku akan tertawa juga
Kau mentertawakan kebodohanku
Dan aku mentertawakan diriku, “Aku memang sangat bodoh”
Kata-katamu masih menyayatku dengan kejinya
Lebih tajam dari benda apapun didunia
Aku akan bertahan dengan rasa sakit ini
“Karena suatu saat rasa sakit ini akan menjadi obat”
Kau pasti tertawa terbahak-bahak mendengarkan kata-kataku
Silahkan tertawa….tertawalah sampai puas
Sampai rahangmu mungkin tidak bisa ditutup kembali
Aku melukiskan semua kekesalanku pada kertas kosong
Berharap semua hanya akan berakhir dalam goresan tinta
Aku ingin kebencian ini terhapus dengan sendirinya
Aku ingin mengakhiri kata-kata negatifmu tentangku
Dengan caraku sendiri…
Aku terlalu mengerti maksudmu, karena itulah aku tak ingin dengar,
Aku berpura-pura tidak tahu menahu, tapi kau semakin memojokkanku
Kemudian dengan sombongnya kau berkata, kata-kata yang menyakitkan itu
Kau selalu saja mengatakan hal yang ingin aku lupakan
Aku terlalu paham tentang pembicaraanmu, karena itulah aku tak ingin ingat
Aku berpura-pura telah melupakannya, tapi kau terus menyudutkanku
Kemudian dengan lembutnya kau berkata, kenangan yang menyebalkan itu
Jika kau tak suka aku
Maka katakan dan menjauhlah dariku
Jangan membunuhku perlahan dengan kata-katamu yang tajam
Kata-kata itu menusukku lebih tajam dari pisau
Tak terlihat dan lukanya takkan bisa hilang
Jika kau tak suka aku
Maka jangan hanya memojokkanku
Kau hanya bisa menyerangku dengan semua kelemahan dan kekuranganku
Kau membunuhku perlahan-lahan, membunuh kesabaranku
Aku ingin menutup mulutmu dan mengembalikan kata-katamu
Kau terkadang membicarakan hal-hal yang tak bisa kumengerti
Kau tak peduli aku mengerti atau tidak, yang penting kau bicara
Kau tak pernah mau mendengarkan kata-kataku
Kau merasa kata-katamulah yang benar dan takkan salah
Aku akan jujur
Aku tak suka padamu
Aku tidak gampang membenci seseorang
Tapi aku gampang menyembunyikan kebencianku
Aku masih bisa memperlihatkan senyum dan kebaikanku
Meskipun aku sangat membencimu
Walaupun aku harus berdusta, aku akan berpura-pura
“Aku tidak ada dendam padamu”
Aku tidak ingin dibenci, karena itu aku tidak mau membenci
Tapi terkadang kau bertindak diluar batas kemampuanku menerima
Aku bisa menerima semua cemoohanmu, caci makimu, emosimu
Dan semua hal negative untukku dengan lapang dada
Yeah…tapi jika aku sudah mengambil sikap DIAM
Itu artinya, aku sudah berada dititik puncak
Titik puncak emosiku
Terkadang, aku berfikir
Lebih baik diam, karena diam menyisakan berjuta misteri
Kau membencinya kan??
Kau boleh tetap melanjutkan ocehanmu yang tak penting itu
Aku hanya akan diam dan mendengarkan semuanya dengan sabar
Aku tak akan kabur dari siapapun yang ingin menjatuhkanku
Karena aku akan menabung kritikanmu untuk kesuksesanku
Kau boleh tetap melanjutkan tawamu yang tak bisa di rem
Aku, sesekali akan ikut tertawa agar aktingku sempurna
Aku berpura-pura menjadi orang yang bodoh didepanmu
Tak apa, asal aku bisa mentertawakan diriku sendiri
Lebih baik begitu, daripada aku terus mentertawakan orang lain….
Aku memang pantas untuk ditertawakan
Berbuatlah sesuka hatimu, dan aku akan berbuat sebaliknya
Aku memang bodoh, saking bodohnya
Aku selalu saja berhasil membuatmu tertawa dan menjatuhkanku
Tertawalah…dan aku akan tertawa juga
Kau mentertawakan kebodohanku
Dan aku mentertawakan diriku, “Aku memang sangat bodoh”
Kata-katamu masih menyayatku dengan kejinya
Lebih tajam dari benda apapun didunia
Aku akan bertahan dengan rasa sakit ini
“Karena suatu saat rasa sakit ini akan menjadi obat”
Kau pasti tertawa terbahak-bahak mendengarkan kata-kataku
Silahkan tertawa….tertawalah sampai puas
Sampai rahangmu mungkin tidak bisa ditutup kembali
Aku melukiskan semua kekesalanku pada kertas kosong
Berharap semua hanya akan berakhir dalam goresan tinta
Aku ingin kebencian ini terhapus dengan sendirinya
Aku ingin mengakhiri kata-kata negatifmu tentangku
Dengan caraku sendiri…
Gelar Terakhir
''Lan, minggu depan saya mau diwisuda.'' charles mengabarkan berita gembira ini kepada Fulan via telepon.
''wah,selamat,ya...''jawab Fulan turut senang.
''thanks! Lan,kamu mau nggak mengantar saya wisuda nanti?''
''lho,kenapa?kamu,kan,masih ada ibu. mengapa tidak minta kepada beliau?''
''ibu sakit,Lan. justru,beliau yang meminta saya diantar kamu.''
singkat cerita, Fulan akhirnya bersedia mengantar Charles yang sudah menyelesaikan studi magister manajemennya untuk acara wisuda.
Charles adalah asli keturunan Bugis. hanya namanya yang kebarat-baratan. entah mengapa ia dinamakan Charles.
''wah, Charles sudah S2, sedangkan saya S1 saja nggak.'' ujar Fulan setengah berbisik mengeluh. Fulan menyesali kondisinya yang tidak sempat menyelesaikan pendidikan S1 di salah satu perguruan tinggi negeri. Drop out di semester-semester ujung karena kebodohannya. jika tidak ingat dengan teman-temannya senasib, ia mungkin masih meneyesali hal itu sampai sekarang. toh, pikirnya, masih banyak manusia-manusia yang senasib dengan Fulan dalam masalah pendidikan. Bahkan, banyak juga yang tidak pernah sedikit pun merasakan bangku sekolah.
setelah menerima telepon dari Charles yang minta ditemani, Fulan tiba-tiba tersenyum sendiri.
saat Fulan tersenyum sendiri, Icha, adiknya, melihatnya. lalu, dia menegur,'' ka...ka...kenapa ketawa sendiri?''Icha menepuk bahu Fulan pelan. ''kenapa sih ketawa sendiri? abis nerima telepon dari siapa, nih?'' tanyanya menggoda.
''itu, si charles nelepon,minta dianter wisuda minggu depan.''
''terus kenapa ketawa?!!!'' cecar icha menyelidiki.
''De...setelah dipikir-pikir, ternyata Allah itu betul-betul teramat baik, ya? imbuh Fulan melempar bahan omongan.
''baik gimana, maksudnya? Emang Allah itu baik. Mahabaik,malah.''
''iya, Dia Mahatahu bahwa tidak setiap orang punya kemampuan kuliah dan kemudian menyelesaikan perkuliahannya hingga diwisuda dan diberi gelar...''
''terus?'' kejar Icha tidak sabar karena Fulan menjeda perkataannya.
''ya, akhirnya Dia putuskan untuk memberi sema orang gelar, tanpa kecuali. semuanya pasti dapat. punya uang atau tidak punya uang, pintar atau tidak pintar, sempat atau tidak sempat, semua akan diberi gelar yang sama.''
'' Gelar almarhum kali?'' tanya Icha menebak.
''pas! Gelar imi bahkan tidak harus melalaui proses pendidikan layaknya di bangku sekolah atau kuliah. Gelar ini hanya mempersyaratkan kematian bagi yang sudah masanya.''
''iya,ya. kalau gelar dunia, seseorang bisa minta ditemani untuk prosesi penerimaan gelarnya, tanda sebuah kelulusan. kalau gelar yang satu ini, gelar alamarhum, pasti tidak ada yang bisa menemani.''
''ya, karena tidak ada yang tahu secara pasti kapan gelar ini akan disematkan Allah ke pundak kita.''
'' tapi,ka,aslinya,kan, kepastian mendapatkan gelar ini sudah diberi tahu oleh Allah. kata-Nya,''tiap- tiap yang bernyawa pasti akan menemui ajalnya.''(QS.Ali Imran 3 :185)./ siapa saja yang mendapat gelar ini berarti sudah tamat sebagai manusia.''
''ya, mungkin layaknya sebuah profesi mendapatkan gelar dunia,seseorang harus berjuang kemudian diuji dan dinyatakan lulus dengan tawa atau berakhir dengan kesedihan karena tidak berhasil mencapai ending. begtu juga dengan kematian,seseorang harus mempersiapkan diri,siap diuji,sebelum akhirnya 'bergelar' almarhum. kesenangan hidup atau kesusahan hidp adalah bentuk ujian itu sendiri. diatas segalanya,hidup ini sendiri adalah ujian.''
selanjutnya, Fulan dan adiknya bicara ngolor ngidul. Fulan sangat senang jika bercengkerama dengan adiknya. ia menganggap salah satu aspek fundamental adanya komunkasi antara anggota keluarga, utamanya yang serumah.
semua akan meninggalkan dunia.
''wah,selamat,ya...''jawab Fulan turut senang.
''thanks! Lan,kamu mau nggak mengantar saya wisuda nanti?''
''lho,kenapa?kamu,kan,masih ada ibu. mengapa tidak minta kepada beliau?''
''ibu sakit,Lan. justru,beliau yang meminta saya diantar kamu.''
singkat cerita, Fulan akhirnya bersedia mengantar Charles yang sudah menyelesaikan studi magister manajemennya untuk acara wisuda.
Charles adalah asli keturunan Bugis. hanya namanya yang kebarat-baratan. entah mengapa ia dinamakan Charles.
''wah, Charles sudah S2, sedangkan saya S1 saja nggak.'' ujar Fulan setengah berbisik mengeluh. Fulan menyesali kondisinya yang tidak sempat menyelesaikan pendidikan S1 di salah satu perguruan tinggi negeri. Drop out di semester-semester ujung karena kebodohannya. jika tidak ingat dengan teman-temannya senasib, ia mungkin masih meneyesali hal itu sampai sekarang. toh, pikirnya, masih banyak manusia-manusia yang senasib dengan Fulan dalam masalah pendidikan. Bahkan, banyak juga yang tidak pernah sedikit pun merasakan bangku sekolah.
setelah menerima telepon dari Charles yang minta ditemani, Fulan tiba-tiba tersenyum sendiri.
saat Fulan tersenyum sendiri, Icha, adiknya, melihatnya. lalu, dia menegur,'' ka...ka...kenapa ketawa sendiri?''Icha menepuk bahu Fulan pelan. ''kenapa sih ketawa sendiri? abis nerima telepon dari siapa, nih?'' tanyanya menggoda.
''itu, si charles nelepon,minta dianter wisuda minggu depan.''
''terus kenapa ketawa?!!!'' cecar icha menyelidiki.
''De...setelah dipikir-pikir, ternyata Allah itu betul-betul teramat baik, ya? imbuh Fulan melempar bahan omongan.
''baik gimana, maksudnya? Emang Allah itu baik. Mahabaik,malah.''
''iya, Dia Mahatahu bahwa tidak setiap orang punya kemampuan kuliah dan kemudian menyelesaikan perkuliahannya hingga diwisuda dan diberi gelar...''
''terus?'' kejar Icha tidak sabar karena Fulan menjeda perkataannya.
''ya, akhirnya Dia putuskan untuk memberi sema orang gelar, tanpa kecuali. semuanya pasti dapat. punya uang atau tidak punya uang, pintar atau tidak pintar, sempat atau tidak sempat, semua akan diberi gelar yang sama.''
'' Gelar almarhum kali?'' tanya Icha menebak.
''pas! Gelar imi bahkan tidak harus melalaui proses pendidikan layaknya di bangku sekolah atau kuliah. Gelar ini hanya mempersyaratkan kematian bagi yang sudah masanya.''
''iya,ya. kalau gelar dunia, seseorang bisa minta ditemani untuk prosesi penerimaan gelarnya, tanda sebuah kelulusan. kalau gelar yang satu ini, gelar alamarhum, pasti tidak ada yang bisa menemani.''
''ya, karena tidak ada yang tahu secara pasti kapan gelar ini akan disematkan Allah ke pundak kita.''
'' tapi,ka,aslinya,kan, kepastian mendapatkan gelar ini sudah diberi tahu oleh Allah. kata-Nya,''tiap- tiap yang bernyawa pasti akan menemui ajalnya.''(QS.Ali Imran 3 :185)./ siapa saja yang mendapat gelar ini berarti sudah tamat sebagai manusia.''
''ya, mungkin layaknya sebuah profesi mendapatkan gelar dunia,seseorang harus berjuang kemudian diuji dan dinyatakan lulus dengan tawa atau berakhir dengan kesedihan karena tidak berhasil mencapai ending. begtu juga dengan kematian,seseorang harus mempersiapkan diri,siap diuji,sebelum akhirnya 'bergelar' almarhum. kesenangan hidup atau kesusahan hidp adalah bentuk ujian itu sendiri. diatas segalanya,hidup ini sendiri adalah ujian.''
selanjutnya, Fulan dan adiknya bicara ngolor ngidul. Fulan sangat senang jika bercengkerama dengan adiknya. ia menganggap salah satu aspek fundamental adanya komunkasi antara anggota keluarga, utamanya yang serumah.
semua akan meninggalkan dunia.
Senin, 27 Februari 2012
beautiful design
sebetulnya di balik berbagai hal tak menyenangkan yang kita rasakan sehari-hari ada desaign indah yang tak mampu kita lihat dengan mata dan pengetahuan kita yang serba terbatas. hanya orang-orang yang memiliki mata batin yang tajam yang bisa menangkap keindahan itu. itulah sebabnya mengapa mereka jarang mengeluh, walaupun mereka menghadapi keadaan yang sulit dan berat.
Kamis, 23 Februari 2012
kisah inspiratif
Alkisah, para ahli arkeologi yang sedang bekerja di Pulau Easter merasa kebingungan. Karena tanah pertanian purba yang mereka gali, ternyata bertaburan bebatuan. Begitu penuh bebatuan. Bagaimana mungkin sebuah lahan perkebunan yang akan menghasilkan banyak makanan dipenuhi bebatuan? pertanyaan-pertanyaan ini menerpa para ahli arkeologi. Menanam batu?
Orang masa kini mengetahui bahwa tanah yang baik adalah tanah yang bebas dari batu dan kerikil. Dengan kondisi itu, tanah menjadi mudah dibajak dan diolah. Namun, mengapa perkebunan kuno di Pulau Easter dipenuhi dengan bebatuan yang mudah dipindahkan?
ternyata, ladang bebatuan itu tak hanya di Pulau Easter, perkebunan serupa ditemukan di Peru,Cina,Selandia Baru,dan Israel. Konon, perkebunan-perkebunan itu berhasil membuahkan panen yang luar biasa ! bagaimana mungkin?
Setelah diteliti jawabannya cukup mengejutkan. menanam bebatuan di area yang jarang mendapatkan hujan, ternyata dapat mengubah gurun pasir atau tanah kering menjadi perkebunan yang produktif. Bebatuan itu mengumpulkan embun dan menciptakan kantung-kantung kelembapan di bawahnya. Bebatuan itu juga mencegah debu humus terkikis dengan cepat, dan bahkan bebatuan tersebut menambahkan sedikit kesuburan bagi tanah.
kesimpulannya:
pertama, rupanya menanam bebatuan merupakan proses peremajaan yang dilakukan tanah. setelah masa subur menghilang, saatnya tanah diberi sesuatu yang berbeda sama sekali,yaitu bebatuan.
kedua, bisa jadi orang-orang purba menanami tanah tandusnya di antara bebatuan itu.jadi, mereka tak mengutuki Tuhan yang memberi tanah tandus. sebaliknya mereka terus berupaya, bahkan dengan melakukan hal yang mustahil sekalipun: menanam bebatuan !.
Orang masa kini mengetahui bahwa tanah yang baik adalah tanah yang bebas dari batu dan kerikil. Dengan kondisi itu, tanah menjadi mudah dibajak dan diolah. Namun, mengapa perkebunan kuno di Pulau Easter dipenuhi dengan bebatuan yang mudah dipindahkan?
ternyata, ladang bebatuan itu tak hanya di Pulau Easter, perkebunan serupa ditemukan di Peru,Cina,Selandia Baru,dan Israel. Konon, perkebunan-perkebunan itu berhasil membuahkan panen yang luar biasa ! bagaimana mungkin?
Setelah diteliti jawabannya cukup mengejutkan. menanam bebatuan di area yang jarang mendapatkan hujan, ternyata dapat mengubah gurun pasir atau tanah kering menjadi perkebunan yang produktif. Bebatuan itu mengumpulkan embun dan menciptakan kantung-kantung kelembapan di bawahnya. Bebatuan itu juga mencegah debu humus terkikis dengan cepat, dan bahkan bebatuan tersebut menambahkan sedikit kesuburan bagi tanah.
kesimpulannya:
pertama, rupanya menanam bebatuan merupakan proses peremajaan yang dilakukan tanah. setelah masa subur menghilang, saatnya tanah diberi sesuatu yang berbeda sama sekali,yaitu bebatuan.
kedua, bisa jadi orang-orang purba menanami tanah tandusnya di antara bebatuan itu.jadi, mereka tak mengutuki Tuhan yang memberi tanah tandus. sebaliknya mereka terus berupaya, bahkan dengan melakukan hal yang mustahil sekalipun: menanam bebatuan !.
Senin, 20 Februari 2012
Menjauh darimu, bukanlah kemauanku
"Dari Ahmad bin Taimiyah,
Untuk Ibunda yang berbahagia,
semoga Allah menjadikan indah pandangan mata ibu melihat karunia Allah..."
Begitulah ibnu Taimiyah mengawali surat yang ia sampaikan kepada ibundannya tercinta. Dan bukan sekedar hendak menjelaskan tentang alasan kepergiannya untuk mengajarkan ilmu, tapi dalam surat yang terdiri lebih dari tiga ratus kata itu, secara khusus ia juga menyampaikan kerinduannya,
".... Sekiranya ada burung yang bisa membawa,Niscaya aku akan terbang menemui engkau.Tetapi orang-orang yang pergi,bersama dirinya pula melekat permintaan maafnya...."
Saudaraku,
Walaupun ibnu taimiyah seorang ulama besar, tapi kita yakin bahwa keilmuannya bukanlah satu-satunya guru yang mengajar kan arti cinta dan rindunya kepada sang ibu. Karena terkadang keilmuan tidak pernah mengajarkan kepada kita arti kerinduan. Tapi kebaikan ibu dan keindahan akan kenang-kenangan di masa lalulah yang telah mengajarkan ibnu Taimiyah akan arti kerinduan itu. Karena tabiat perasaan hanya hendak merasakan sesuatu yang indah dari masa yang telah berlalu. Sehingga kalau kita sempat berfikir untuk kembali pada saat-saat indah di masa lalu, maka ketika itu, sesungguhnya kita tengah merindu. Ya, begitulah jalan rindu yang kita pahami, jalan rindu yang berawal dari sebuah prasasti kenangan di masa lalu.
Tapi apakah kita tau tentang jalan rindu ibu terhadap kita anaknya? Sebuah jalan rindu yang berada diluar jalan rindu yang kita pahami. Jalan rindu yang tak mesti di dahului akan kebaikan dan keindahan di masa lalu. Tapi jalan rindu yang justru di dahului akan harapan baik dan indah di masa yang akan datang.
Seperti seuntai senyum bahagia seorang ibu kita dulu ketika mendengar kabar akan kehadiran kita yang telah bersemayam di dalam rahimnya. Ya, seuntai senyuman yang berangkat dari kerinduan akan harapan dan keyakinan bahwa hanya kitalah yang bisa membahagiakannya nanti. Sehingga wajar jika pada akhirnya semua pengorbanan ia kerahkan untuk keselamatan kita. Kalau sebelum mengandung ia boleh memakan apa saja yang ia sukai, maka ketika ia mengandung, ia akan rela jika ternyata ia harus memakan makannan yang mungkin sebenarnya ia tak menyukainya, hanya karena sebuah alasan, bahwa makanan yang dia makan adalah juga makanan yang terbaik buat kita yang di kandungnya. Karena dia telah merasakan kehadiran kita sebelum keberdaan kita, dan dia telah mencintai kita sebelum orang-orang mengenal kita.betapapun tidak, kalau sekiranya ketika itu kita meninggal (keguguran). pasti ibu, ayah dan semua keluarga kita akan menangis dan bersedih. Tapi apakah kita tau apa yang sebenarnya mereka tangisi? bapak dan keluarga kita mungkin akan menangis karena khawatir akan keselamatan ibu, tapi ibu kita?hanya Ia yang menagis dan bersedih karena meninggalnya kita, malaikat kecilnya. ia tidak lagi mempedulikan dirinya sebagaimana ayah dan keluarga mempedulikannya, ia hanya memikirkan kita, sosok makhluk yang dalam dugaannya akan bisa membahagiakannya, sosok makhluk yang dalam prasangkanya akan menjadi pelipur laranya dan penyejuk jiwanya.
Saudaraku,
Di antara harapan-harapan ibu kita, entah kita berada di mana? Adakah kita adalah sosok yang bisa membahagiakannya, ataukah kita termasuk sosok yang dalam prasangkanya akan menjadi pelipur laranya dan penyejuk jiwanya? Atau kita malah tidak ada di antara harapan-harapan dan parasangka-prasangkanya? atau bahkan kita malah telah membuatnya menangis sebelum kita mampu membuatnya tersenyum? Kita malah menjadi duka laranya sebelum kita menjadi pelipur laranya?
Tidakkah kita malu kepada Rasulullah saw, seorang makhluk yang tidak dibesarkan oleh kasih sayang seorang ibu dan perhatian seorang ayah. Tapi beliau mengerti bagaimana kita harus menjaga perasaannya dan menjadi penawar bagi kesedihannya. Sebagaimana nasihat yang pernah Beliau sampaikan kepada salah seorang sahabat yang telah membuat kedua orang tuanya menangis karena kepergiannya untuk hijrah, "Kembalilah kepada keduanya, buatlah keduanya tersenyum, sebagaimana kamu telah membuat keduanya menangis".(HR. Bukahari)
Saudaraku,
Kalaupun rasulullah memerintahkan sahabatnya untuk kembali dari perjalanan mulianya (hijrah). Maka membahagiakan ibu dan ayah adalah semulia-mulianya perjalanan. Karena Rasulullah juga sadar, bahwa jalan cinta yang pernah mereka pernah tempuh, tidak akan pernah bisa terbalas dengan jalan cinta yang telah dan akan kita persembahkan, sekuat apapun kita mengusahakannya dan sebesar apapun kita mempersembahkannya. Sehingga wajar, jika pada akhirnya kita di ajarkan sebuah doa keputus asaan akan kekuatan untuk membalas semua kebaikan keduanya,
"Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah serta ibuku, kasihanilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil”.
Saudaraku,
Sekiranya waktu dan takdir harus memisahkan antara kita dengan ibu kita, akankah kita masih merindukannya? Masihkan kita mendoakannya? Akankah kita berkata sebagaimana ibnu taimiyah pernah menulis pada di antara bait-bait suratnya, "...Sungguh, menjauh darimu bukanlah kemauan diriku".
Untuk Ibunda yang berbahagia,
semoga Allah menjadikan indah pandangan mata ibu melihat karunia Allah..."
Begitulah ibnu Taimiyah mengawali surat yang ia sampaikan kepada ibundannya tercinta. Dan bukan sekedar hendak menjelaskan tentang alasan kepergiannya untuk mengajarkan ilmu, tapi dalam surat yang terdiri lebih dari tiga ratus kata itu, secara khusus ia juga menyampaikan kerinduannya,
".... Sekiranya ada burung yang bisa membawa,Niscaya aku akan terbang menemui engkau.Tetapi orang-orang yang pergi,bersama dirinya pula melekat permintaan maafnya...."
Saudaraku,
Walaupun ibnu taimiyah seorang ulama besar, tapi kita yakin bahwa keilmuannya bukanlah satu-satunya guru yang mengajar kan arti cinta dan rindunya kepada sang ibu. Karena terkadang keilmuan tidak pernah mengajarkan kepada kita arti kerinduan. Tapi kebaikan ibu dan keindahan akan kenang-kenangan di masa lalulah yang telah mengajarkan ibnu Taimiyah akan arti kerinduan itu. Karena tabiat perasaan hanya hendak merasakan sesuatu yang indah dari masa yang telah berlalu. Sehingga kalau kita sempat berfikir untuk kembali pada saat-saat indah di masa lalu, maka ketika itu, sesungguhnya kita tengah merindu. Ya, begitulah jalan rindu yang kita pahami, jalan rindu yang berawal dari sebuah prasasti kenangan di masa lalu.
Tapi apakah kita tau tentang jalan rindu ibu terhadap kita anaknya? Sebuah jalan rindu yang berada diluar jalan rindu yang kita pahami. Jalan rindu yang tak mesti di dahului akan kebaikan dan keindahan di masa lalu. Tapi jalan rindu yang justru di dahului akan harapan baik dan indah di masa yang akan datang.
Seperti seuntai senyum bahagia seorang ibu kita dulu ketika mendengar kabar akan kehadiran kita yang telah bersemayam di dalam rahimnya. Ya, seuntai senyuman yang berangkat dari kerinduan akan harapan dan keyakinan bahwa hanya kitalah yang bisa membahagiakannya nanti. Sehingga wajar jika pada akhirnya semua pengorbanan ia kerahkan untuk keselamatan kita. Kalau sebelum mengandung ia boleh memakan apa saja yang ia sukai, maka ketika ia mengandung, ia akan rela jika ternyata ia harus memakan makannan yang mungkin sebenarnya ia tak menyukainya, hanya karena sebuah alasan, bahwa makanan yang dia makan adalah juga makanan yang terbaik buat kita yang di kandungnya. Karena dia telah merasakan kehadiran kita sebelum keberdaan kita, dan dia telah mencintai kita sebelum orang-orang mengenal kita.betapapun tidak, kalau sekiranya ketika itu kita meninggal (keguguran). pasti ibu, ayah dan semua keluarga kita akan menangis dan bersedih. Tapi apakah kita tau apa yang sebenarnya mereka tangisi? bapak dan keluarga kita mungkin akan menangis karena khawatir akan keselamatan ibu, tapi ibu kita?hanya Ia yang menagis dan bersedih karena meninggalnya kita, malaikat kecilnya. ia tidak lagi mempedulikan dirinya sebagaimana ayah dan keluarga mempedulikannya, ia hanya memikirkan kita, sosok makhluk yang dalam dugaannya akan bisa membahagiakannya, sosok makhluk yang dalam prasangkanya akan menjadi pelipur laranya dan penyejuk jiwanya.
Saudaraku,
Di antara harapan-harapan ibu kita, entah kita berada di mana? Adakah kita adalah sosok yang bisa membahagiakannya, ataukah kita termasuk sosok yang dalam prasangkanya akan menjadi pelipur laranya dan penyejuk jiwanya? Atau kita malah tidak ada di antara harapan-harapan dan parasangka-prasangkanya? atau bahkan kita malah telah membuatnya menangis sebelum kita mampu membuatnya tersenyum? Kita malah menjadi duka laranya sebelum kita menjadi pelipur laranya?
Tidakkah kita malu kepada Rasulullah saw, seorang makhluk yang tidak dibesarkan oleh kasih sayang seorang ibu dan perhatian seorang ayah. Tapi beliau mengerti bagaimana kita harus menjaga perasaannya dan menjadi penawar bagi kesedihannya. Sebagaimana nasihat yang pernah Beliau sampaikan kepada salah seorang sahabat yang telah membuat kedua orang tuanya menangis karena kepergiannya untuk hijrah, "Kembalilah kepada keduanya, buatlah keduanya tersenyum, sebagaimana kamu telah membuat keduanya menangis".(HR. Bukahari)
Saudaraku,
Kalaupun rasulullah memerintahkan sahabatnya untuk kembali dari perjalanan mulianya (hijrah). Maka membahagiakan ibu dan ayah adalah semulia-mulianya perjalanan. Karena Rasulullah juga sadar, bahwa jalan cinta yang pernah mereka pernah tempuh, tidak akan pernah bisa terbalas dengan jalan cinta yang telah dan akan kita persembahkan, sekuat apapun kita mengusahakannya dan sebesar apapun kita mempersembahkannya. Sehingga wajar, jika pada akhirnya kita di ajarkan sebuah doa keputus asaan akan kekuatan untuk membalas semua kebaikan keduanya,
"Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah serta ibuku, kasihanilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil”.
Saudaraku,
Sekiranya waktu dan takdir harus memisahkan antara kita dengan ibu kita, akankah kita masih merindukannya? Masihkan kita mendoakannya? Akankah kita berkata sebagaimana ibnu taimiyah pernah menulis pada di antara bait-bait suratnya, "...Sungguh, menjauh darimu bukanlah kemauan diriku".
Langganan:
Postingan (Atom)