Kamis, 20 September 2012

inspirasi cinta

Seusai shalat dhuhur, aku sempatkan menengok kesalah satu blog yang sering kukunjungi, disana dia menulis sebuah dialog begini:

A: "Mba,mau nikah ya?"
B : "Insya Allah mau lah.. Kan sunnah Rasulullah.."
A : "Dah punya calon..?
B : "Alhmdulillah sudah,kan sudah ditulis sama Allah"
A : "Siapa dia?"
B : "Insya Allah dia adalah lelaki pilihan Allah.
A : "Mengapa mau nikah sama dia..?" ...
B : "Insya Allah memilih dia karena Allah"
A : "Bagaimana nanti ketemunya?"
B : "Yakin saja, Allah punya cara yang tak pernah kita duga.
A : "Lhah, kapan donk nikahnya..?"
B : "hm..Allah Maha Tahu kok kapan waktu yang tepat & terbaik" A : "Terus,di mana ketemunya..?
B : "tenang... Masih di bumi Allah,
A : "Kalo gak ketemu, kita keburu tua dan meninggal gimana?
B : "kalo toh memag tidak di dunia, Insya Allah di syurga-Nya.
A : "jadi..."
B : "Serahkan semua pada Allah Yang Maha membolak balikkan hati.,niatkan tuk gapai ridho-Nya semata.Insya Allah beres!.. Apapun yang berkaitan dengan rezeki (termasuk jodoh),jangan diletakkan di hati! Tapi benar-benar serahkan pada Allah Azza Wa Jalla..."

Sebuah dialog yang kembali menginspirasi saya, insya Alloh jika dia memang jodohku, suatu saat pasti akan dipertemukan

Rabu, 19 September 2012

menghilang disudut hati


Aku benci seperti ini, mendengar alunan gitar para lelaki, menyanyikan lagu-lagu yang seperti menyindir suasana hati. aku benci menyiksa diri, aku bahkan tidak lagi mengenal diriku sekarang, aku kehilangan! aku kehilangan diriku! aku benci berpura-pura tersenyum padahal tak ingin.

"kamu ko tenang-tenang saja" tanya seorang kawanku sore itu.

Ah, kamu tidak tahu bahwa sebearnya aku rapuh dibalik dinding yang kalian lihat kokoh. Aku berjuang bertahan di balik dinding itu, hanya di depan kalian, sementara saat malam datang dan menyepikanku, tersudut sendiri aku tenggelam dalam tangis.

"menangislah jika itu perlu, setiap manusia berhak menangis, pernah merasa terluka" seorang kawanku berkata.

Kamu tidak tahu ya? betapa sulitnya menangis saat kamu bahkan merasa bahwa kamu tidak lagi bisa menangis karena sedih, kamu tidak mengerti kan bagaimana rasa sesak karena menahan semuanya?

Lalu aku melihat seorang pria dengan gitarnya, aku teringat seseorang, begitu mudahnya mengingat sementara sulit melupa.

Aku lari dari semua, namun setiap aku terbangun aku selalu sadar bahwa ini nyata, ini bukan mimpi, dan ini harus dilalui.

Kalian tidak mengerti apa yang aku bicarakan, karena kalian tidak dalam posisiku. AKu terasing dalam lingkaran sendu, dengan mata sembab setiap paginya. Aku tidak sekuat yang kalian lihat. Aku tidak setegar yang kalian pikirkan.

AL-QUR’AN YANG MULIA


Dalam kesibukan keseharian kita, ada yang sering kita lupakan. Mungkin kita beranggapan bahwa ia bukan kewajiban. Mungkin kita pula beralasan banyak pekerjaan lain yang mendesak.
Al-Qur’an di rumah kita sering tidak dibuka. Perhatian kita pada Al-Qur’an masih sangat kurang. Iman kita terhadap Al-Qur’an masih menanti pembuktian. Kitab maha mulia yang tampak membisu itu adalah tamu istimewa. Kitab maha suci itu adalah surat ilahi kepada kita semua. Kitab maha benar itu penuh cinta kasih sayang ilahi. Kitab maha agung itu membawa rahmat dan berkah untuk kita. Kitab maha istimewa itu wajib kita sambut gembira, penuh perhatian.
Al-Qur’an bukan kitab sembarang kitab, Al-Qur’an petunjuk hidup tanpa kesalahan sedikitpun, tanpa kekurangan sedikitpun, abadi sepanjang masa.
Al-Qur’an penenang jiwa orang yang membacanya dan menyimaknya. Al-Qur’an lautan ilmu tak bertepi, tak ada habisnya. Al-Qur’an pemberi syafa’at bagi yang membacanya. Al-Qur’an obat mujarab untuk melawan sihir, kesurupan, gangguan jin. Al-Qur’an pelunak hati, pensuci jiwa, pencerah pikiran, penambah iman. Al-Qur’an adalah cahaya dan ruh kehidupan.
Bila di hati masih ada iman, pasti ada kecintaan pada Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an menjadi program harian yang dipatuhi.
Kebahagiaan apa yang kita kejar, jika kita jauh dari Al-Qur’an ?
Keselamatan apa yang kita impikan jika kita membelakangi Al-Qur’an?
Membaca Al-Qur’an itu, sungguh hanyalah perhatian minimal yang wajib kita berikan. Untuk siapa ? untuk kebaikan diri kita sendiri.
Bukankah kita ini sedang berjalan menuju kematian ?
Bukankah kita telah sering mendapat peringatan dan teguran dari sang pemilik Al-Qur’an yang maha mulia ?
Bukankah kita ingin memperbanyak bekal untuk menghadap ilahi ? Al-Qur’an salah satu bekal terbaik.
Alangkah indah hidup ini jika kita mendapat berkah Al-Qur’an. Alangkah bahagia rumah tangga kita jika seluruh anggota keluarganya membaca Al-Qur’an setiap hari. Alangkah damainya masyarakat kita jika Al-Qur’an benar-benar telah memasyarakat.


Senin, 09 Juli 2012

michiki rena


Tokoh favoritku dalam sebuah film korea ‘’mother’’. ia seorang anak kecil, namun pemikirannya tentang hidup melebihi orang dewasa. Ia mampu menjalani hari-harinya dengan menebar senyuman dan keceriaan, meski ia sendiri sebenarnya menderita. Ia kerapkali mencatat setiap hal-hal yang disenanginya pada sebuah buku kecil yang ia selalu bawa kemanapun ia pergi. Dengan seperti itu, sejenak ia dapat melupakan setiap penderitaan yang ia alami. Dimanapun ia berada, ia selalu menampakkan wajah bahagia. Dan tidak pernah mengeluh.
Mengapa saya begitu terinspirasi dengan ‘michiki rena’?
Kebanyakan, saat kita terbentur sulit untuk bangkit kembali. Kegagalan kadang membuat putus asa. Membiarkan diri terpuruk dengan penyesalan. Seakan gelap tak akan terang.
Kegagalan mengundang cibiran, namun itu jangan membuat putus asa. Satu cibiran adalah satu semangat. Tetap tersenyum seperti senyuman michiki rena, berpikir positif dan terus berjalan ke depan.
Michiki rena hidup dalam dunia ideaku.
Ketika saya merasa lelah, dengan mengingatnya. Terasa ada butiran-butiran semangat meleleh. Membuat saya semangat kembali.
Ketika situasi memancing emosi, michiki rena menjelma menjadi air memadamkan api. Hingga semuanya kuhadapi dengan tersenyum.
Intinya, tokoh michiki rena mengajarkan untuk tidak pernah mengeluh dan selalu tersenyum. Bahkan disaat susah sekalipun.
Mau bahagia atau mau susah...itu adalah pilihan.tergantung bagaimana menyikapinya.



cuap-cuap amatiran...


Tak sekalipun hari kulewatkan berhadapan dengan windows, mencurahkan apa yang tengah kupikirkan. Belajar merangkai kata menjadi sebuah kalimat yang indah. Namun, kadang waktuku tersita hanya saling bertatapan dengan window tanpa menuangkan satu katapun. Bercengkerama dengan dunia idea, memilah kata demi kata yang patut aku tuangkan. Berulangkali, tetap saja windows di depanku kosong. Kadang juga, telah kurangkai kata menjadi kalimat. Ketika merasa tidak pas, aku menekan tombol delete. Dan berulangkali seperti itu. Aku sendiri juga bingung, kata seperti apa yang sebenarnya aku cari. Dan kalimat seperti apa yang ingin aku rangkai. Pertanyaan bodoh bukan ?...
Iya, bukannya aku tak bisa sebenarnya. Namun aku tidak percaya dengan diriku sendiri. Itulah yang menjadi masalah utama. Telah kuciptakan banyak rangkaian kata, namun lenyap begitu saja. Entahlah, apakah aku melemparnya ketempat sampah ataukah ikut menguap ke udara. Tak berbekas.
Tulisan adalah sejarah. Aku sangat menyukai sejarah dan ingin membuat sejarah. Meski tidak mudah mewakilkan dunia idea dalam tulisan, namun tidak ada yang tidak mungkin. Berbicara di depan umum, menyampaikan aspirasi secara lisan, ditonton audiens membuatku begitu percaya diri. Bahkan kata yang tadinya tidak menjadi sebuah konsep tertuang begitu saja. Tapi aneh, berhadapan dengan kertas putih justru membuat aku tidak pede. Menuliskan satu kata saja rasanya berat, apalagi ditambah memikirkan kata selanjutnya. Oh my God, whats wrong?...